Posted by: zahraflo on: Oktober 20, 2008
Seperti anak kecil yang tidak bisa menahan amarah antar mahasiswa menjadikan tawuran sebagai solusi terindah untuk menyelesaikan masalah, bahkan menjadikan tawuran sebagai selingan dan rutinitas. Mereka terlihat hanya sebagai siswa yang masih perlu banyak belajar, belajar menahan emosi, belajar pemecahan masalah, dan belajar mengenali lingkungan. ‘Maha’ bagi mahasiswa sudah hilang, lenyap dibalik deru lemparan batu, pukulan balok atau parang, dan lemparan bom rakitan.
Mahasiswa mestinya kuliah, belajar, dan sedapatnya juga membantu rakyat. Mengadakan acara sosial atau bersosialisasi dengan masyarakt dan mahasiswa -mahasiswa yang tidak sealmamater. Tawuran yang gak jelas penyebabnya dijadikan santapan nikmat di sela-sela jam kuliah, membuat ribut, macet, berdarah, mungkin mati…. untung apa?
Yaaaaah…. mungkin ‘Maha’ sudah menjadi barang mahal seperti kata orang Minang ‘ Maha sadoe kini mah….’ (mahal sekarang semuaya). Gak cuma sembako yang mahal, tapi juga sikap ‘maha’ seorang mahasiswa juga mahaaaaaaal banget sekarang.
Kemanakah kita akan berkaca untuk menghadapi masa depan? Calon-calon penghuni masa depan sudah menunjukkan tabiat tak sedap di masa ini. Untungnya apa sih? Tawuran itu untuk apa? Kenapa harus tawuran? Kenapa ada tawuran?
Komentar Terakhir