Ngobrolin Iklan Televisi

Sebel kan pas acara TV lagi asyik eh ada yang nyelip bentar ‘numpang lewat’, jualin produknya. Ada yang ngomongin  kemurahannya, ada yang jelek-jelekin produk lain, ada yang bisa pastikan dalam beberapa hari saja produknya berhasil. Bersaing sih boleh-boleh aja tapi tonjolin kelebihannya asal tidak berlebihan, ga perlu jelekin tetangga kalau ga bisa buktikan kelebihan sendiri.

Ada ga ya lembaga sensor iklan,? Kalau iklannya ga kebukti langsung diperkarakan. Trus batas-batas iklan yang wajar ada aturannya ga ya? Kalau yang sensor anak-anak udah pasti iklan yang ada tokoh kartun atau tokoh idolanya yang dilanjutkan untuk dipromosikan. Kalau yang sensor Ibu-ibu satu RT yang dicari pasti yang harganya murah, mutunya bagus, gampang nyarinya cepat cara kerjanya. Kalau yang sensor bapak-bapak, mungkin yang dipilih yang ada cewek cantiknya, dandan abis-abisan lengkap dengan aksesoris dan terlihat menarik. Kalau yang sensor remaja yang dipilih yang ada cowok atau cewek yang keren abis (katanya).

Anehnya lagi pas acara anak semisal film kartun, pas jeda iklannya yang muncul langsung nyanyi cinta-cintaan. Duh ga bener banget deh. Aturannya kok ga ada ya?

Iklan rokok berlomba menunjukkan bahwa kalau dengan merokok dapat meningkatkan kinerja pria. Pembuktiannya apa? Apa benar demikian? (Tapi lucunya ada note peringatan yang ditayangin sekilas) Ada artis-artis cantik yang mengiklankan produk kecantikan  yang beragam, mereka gunakan produk itu ga? Apa pernah mereka melakukan tes produk? Kadang iklannnya ga nyambung dengan produknya, bukan produk yang dijual tapi kesingsetan, kemolekan dan keelokan tubuh.

Iklan Rokok (ngomongin rokok lagi ya) malah ada di setiap event olahraga. Kenapa bukan minuman energy atau makanan yang sehat? Bisa ga ya dengan merokok tubuh jadi sehat? Ga nyambung kan iklannya?

Iklan produk yang baik jangan sampai mengecoh konsumennnya sendiri, bukankah jika tidak terbukti maka ia akan ditinggalkan pelanggannya. Tapi karena terkadang karena konsumen tidak punya pilihan lain, dengan terpaksa tetap setia dengan pilihannya meski kecewa terpendam.

Kalau memang tidak ada yang berwenang untuk mengawasi periklanan Televisi, maka hal itu menjadi kewenangan kita bersama. Publik sebagai konsumen dapat melakukan sensor sendiri, dan langkah yang paling sederhana adalah memunculkan opini ke public dengan penyampaian yang baik. Mungkin kita bisa memberikan masukan atau kritikan semisal: “Iklannya kenapa tidak sesuai dengan aturannya? Inikan acara untuk  anak-anak iklannya seharusnya produk untuk anak”, “kenapa ya baju cewek itu terlalu terbuka padahal yang diiklankan Cuma permen?”, atau lainnya.

Kepedulian kita hasilnya juga untuk kita. Namun mungkin kita juga butuh perlindungan. Jangan sampai hanya karena memberikan masukan dan komentar kita dianggap mencemarkan nama baik.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.