Namaku Langit…

Standar

Pada suatu waktu saya tertarik untuk melihat langit dan mengabadikan bentuknya. Bentuk awan yang cantik, dan suasana langit ketika diintip dibalik dedaunan begitu menarik dilihat.

Kadang seakan tertarik ke langit dan berada di antara awan yang sedang membentuk formasi menakjubkan. Kenapa awan itu begitu indah?

Langit sering berkisah mengenai besarnya kekuasaan Rab. Langit menyaksikan betapa komplit dan sesaknya hidup di bumi. Dan sering mendapatkan ketidakadilan dari aktifitas bumi.

Langit.. akankah langit tetap indah hingaa suatu saat nanti?

Saya memotret langit dengan gaya sendiri meski sebenarnya tidak ada gayanya. Hanya memotret dikala merasa langit sedang menarik utnuk diabadikan.

Berikut beberapa foto langit dari beberapa kamera HP 🙂

 

9

Langit di Pantai Pariaman 1

8

Langit di Pantai Pariaman 2

7

Langit di Pantai Pariaman 3

 

2

Langit di Canti Dharma Park 1

3

Langit di Canti Dharma Park 2

 

4

Langit di taman Monas 1

5

Langit di taman Monas 2

6

Langit di Pantai Padang

1

Langit dari balik kaca Bandara International Minangkabau

 

Iklan

Masjid ini pernah saya singgahi

Standar

Menempuh perjalanan jauh pastinya harus singgah di masjid terdekat saat azan menjelang.. Biasanya saya suka foto-foto ruang masjid dan mengingat-ingat kejadian di sana. Berbagai macam arsitektur masjid dengan gaya pengaturan masuk jemaah yang berbeda-beda.. Beberapa masjid ada yang memisahkan antara jemaah laki-laki dan perempuan dengan pembatas yang bisa dipindah. namun da juga masjid yang memisahkan dengan pemisah permanen bahkan harus memisahkan secara vertikal.

Beberapa masjid yang saya foto sudah tidak ingat lagi lokasinya dimana dan apa nama masjidnya, untuk yang saya posting di sini setidaknya da lokasi masjidnya ^_^

 

1. Masjid Raya Sumatera Barat

 

mesjid Padang

Masjid Besar ini saat saya singgahi saat konstruksi belum rampung, namun sudah dapat digunakan. Dengan toilet yang cukup bersih, dan tempat wudhu cukup rapi. Hanya saja, bagi orangtua saya ini cukup melelahkan menaiki anak tangganya. Masjid cantik dengan model yang unik ini waktu itu belum banyak disinggahi, karena mungkin pekarangan yang luas membuat pejalan kaki agak enggan memasukinya, juga letaknya bukan di pusat keramaian. Namun semoga suatu saat masjid ini mampu dimakmurkan ^_^

Tak hanya bagian luarnya yang unik, berbentuk bagonjong, bagian dalamnya juga unik lho.. Pada bagian depan di dekat Imam terdapat bentuk melingkar seperti Hajar Aswad. Kemudian ke atasnya terdapat tulisan Asmaul Husna hingga mencapai plafond masjid. Warna dinding yang putih, lobang ventilasi yang banyak dan plafond yang tinggi membuat tentram dan sejuk di dalam masjid. Tak hanya bagian depan saja yang menarik, melihat ke atas terasa semua bagian adalah hal yang menarik.

Itu adalah pertama kalinya saya singgah ke masjid ini dan semoga suatu saat bisa singgah kembali.

mesjid Padang 2

 

 

2. Masjidd Istiqlal

 

10 istiqlal

 

 

Masjid Istiqlal dengan Plafond keemasan yang selalu menarik perhatian saya kalau berkunjung membuat saya tidak bosan mengambil gambarnya. Masjid ini mempunyai tempat parkir yang cukup luas, namun pemandangan sungai di depan masjid kurang menarik. Saat memasuki masjid alas kaki langsung dilepas untuk menuju tempat penyimpanan alas kaki. Ada tempat duduk untuk menunggu bagi yang tidak menunaikan shalat.

Namun perjalanan cukup panjang menuju tempart berwudhu, melelahkan. Beberapa toilet sudah tidak terpakai, padahal jemaah di sana selalu ramai. Toilet yang masih bisa digunakan pun fungsinya tidak maksimal. Air cukup bersih, dan tersedia cukup banyak air.

Selesai wudhu perjalanan panjang lagi menuju ke atas masjid. Sajadah masjid empuk dan nyaman untuk diduduki. Jemaah laki-laki dan perempuan dibatasi dengan pembatas rendah yang bisa dipindah-pindah. Menurut saya plafondnya unik.. seperti sekat-sekat kecil. Tiang kokohnya juga cantik, berwarna silver.

Beberapa kali ke sini membuat say masih ingin ke sini lagi ^_^

 

3. Masjid Cut Mutiah

Masjid Cut Meutia atau Masjid Cut Mutiah pada awalnya tidak diperuntukkan untuk Masjid. Masjid ini terletak di Jalan Cut Meutia no. 1 Jakarta Pusat. Saat ini dipakai sebagai masjid, posisi shalat tidak sejajar bangunan namun miring. Meski demikian tetap nyaman untuk beribadah. Toilet cukup nyaman dan bersih, air tersedia cukup. Tempat shalat sedikit naik dengan beberapa anak tangga. Jamaah laki-laki dan perempuan dibatasi dengan pembatas tinggi yang bisa dipindah-pindah, pembatasnya cantik lhoo.. warnanya kalem ^_^(seperti saya ya.. 😀 ). Sajadahnya juga empuk.

14

Beberapa kali hendak ke masjid ini merasa kecewa.. Kecewa karena masjidnya dipakai untuk acara pernikahan. Sehingga beberapa kali harus memutar mencari masjid lain untuk shalat.

Halaman parkir cukup luas, bisa menikmati beberapa jajanan yang dijual di bagian luar pagar masjid. Dari luar terlihat sebagai bangunan tua namun kokoh. Lain kali mungkin mampir lagi ke masjid ini ^_^

13 15

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. Masjid Al Barkah

 

mesjid al barkah

Masjid Agung Al Barkah Bekasi adalah masjid yang cukup sering saya singgahi, warna hijaunya tentram banget dilihat. Memiliki 2 menara tinggi di bagian depan. Tempat parkir cukup luas, tempat wudhu dan toilet bersih, tempat alas kaki tersedia cukup besar. Pembatas jamaah cukup tinggi dan bisa digeser-geser. Jika bagian bawah penuh bagian atas masih tersedia tempat yang luas. Sajadah cukup empuk.  Pintu jamaah laki-laki dan perempuan terpisah terdapat dua pintu di depan dan di samping juga ada pintu yang terbuka luas.

Area wudhu perempuan dan laki-laki langsung terpisah di bagian kiri dan kanan. Shalat di sini cukup nyaman, suara imam sejuk. Meski sudah berkali-kali shalat di sini masih ingin pergi lagi.

 

5. Masjid Tanah Abang Blok A

 

mesjid tanah abang

Masjid dengan interior warna-warni ini bersih dan nyaman. Terdapat di bagian atap pusat grosir Tanah Abang blok A. Biasanya kalau ke Tanah Abang saya shalat di sini.

Penjaga toiletnya ramah, terdapat beberapa toilet jongkok dan toilet duduk. Toilet jongkok jadi favorit ^_^ Air bersih dan melimpah. Tempat wudhu cukup luas. Hanya tempat alas kaki yang saya masih bingung, itu hanya ada 1 ya? Saya sarankan sebaiknya terpisah antara laki-laki dan perempuan, dan tempatnya terbuka, tetap rapi dan enak dilihat, jamaah bisa meletakkan sendiri alas kakinya. Jamaah perempuan harus naik satu lantai untuk shalat, tidak seperti di bagian bawah, bagian atas tidak begitu luas, namun cukup untuk menampung jemaah. Sajadah cukup empuk dan nyaman. terdapat mukena yang bisa digunakan jika diperlukan. Hanya saya sering khawatir jendela di bagian atas tidak ada pengamanannya dan posisinya sangat rendah. Tidak aman untuk anak-anak. Untuk mencapai mesjid bisa menggunakan lift.

Ibarat grafik, ada naik dan turun

Standar

Mengikuti perhelatan Pekan ASI dunia, saya mau berbagi kisah mengenai pengalaman ngASI anak pertama dan kedua.

NgASI untuk kedua anak saya banyak asyik, seru, duka, tantangan dan halangan. Ibarat sungai berliku-liku, ibarat gunung ada tinggi rendah, ibarat grafik ada naik turun. Kadang sambil ngASI nangis, kadang senyum, kadang meringis. Baik anak pertama atau anak kedua tidak pernah saya beri jadwal ngASI kalau ada ibu-ibu bilang lagi tidur bangunin aja, kan udah waktunya beri ASI. Hmm… kalau saya tidak. Saya memberi ASI saat anak merasa butuh ASI. Lalu sistem kanan kiri juga ada yang nasehati semisal sudah sekian menita pindahin.. Nah ini saya beda lagi.. kalau belum mau dilepasin ya saya masih biarkan ^_^ Yang penting anaknya puas…

Kalau banyak ibu-ibu yang takut gemuk saat ngASI (karena biasanya makan tidak terkendali apa aja mau dimakan) saya mah santai. Tetap lanjutkan perjuangan ngASI.

Ntar katanya “kendor”, itu kan katanya.. buktinya? Tetap berjuang ngASI… lanjuuttt…

Anak pertama mendapat ASI ekslusif selama 6 bulan. Alhamdulillah daya tahan tubuhnya cukup bagus. Berkali-kali saya mengalami radang PD dan ASI tersumbat. Berkali-kali ke dokter pula.. Padahal kalau ke dokter nasehatnya sederhana, dikompres saja dan dikeluarkan ASI-nya. Pernah juga mengalami demam saat  PD meradang, dan udah panik duluan pikiran semalaman tidak tenang, pokoknya udah maut saja deh yang ada di kepala. Sampai berpikir nanti dimakamin dimana(ingat ini benar-benar waktu itu udah pikiran yang tingkat tinggi).

Waktu anak pertama sih tidak begitu geram giginya menggigit pede, dan hanya lecet sedikit saja. Tapi ga nangis pas ngASI?  Nangis juga.. karena merasa kesepian jauh dari keluarga, baru pertama kali merantau. Sedihnya berasa….

Anak pertama tidak sampai 2tahun menyusui, karena saat usia 1tahun 8bulan saya hamil anak kedua. Awalnya coba tetap memberikan ASI, tapi saya mengalami penurunan kesehatan. Akhirnya anak pertama disapih lebih awal. Sedih sebenarnya, tapi saya tidak bisa memaksakan diri.

asi 1

Melahirkan anak kedua saya berada di tengah keluarga besar di kampung. Di sini banyak tantangan yang saya hadapi. Ketika ngASI anak kedua pada awalnya ASI melimpah, sampai harus disumpel kain dan ganti-ganti terus. Saya tidak ingat persis pada bulan keberapa ASI terasa sangat kurang dan sedih rasanya, kemungkinan terlalu banyak pikiran, dan sering sedih, suami dan saya terpisah sementara karena harus kerja. Beberapa hari bayi di rumah disuapin minuman daerah (kocokan telor mentah dan teh panas) sama saudara. Mau nangis rasanya, tapi katanya ga apa-apa, saya hanya bisa pasrah.

Sempat juga mengalami peradangan dan deman. Suatu waktu sebelum tidur PD terasa agak bengkak, hanya karena mengantuk tidak sempat dikompres dan dibawa tidur. Tiba-tiba terbangun sekitar jam setengah 3 pagi, seluruh persendian kaki terasa tidak nyaman. Kaki digerakkan terasa, bahkan dalam posisi lurus tetap sakit. Radangnya bertambah dan badan terasa panas. Akhirnya saya kompres dan ASInya dikeluarkan. Sebenarnya suami menawarkan untuk periksa ke dokter , tapi saya merasa kasihan dengan anak-anak terganggu tidurnya. Waktu itu suami sedang di rumah karena saya baru habis melahirkan, suami pulang. Sakitnya masih terasa, kepala sakit, dan badan masih panas hingga pagi. Setelah sarapan badan terasa lebih baik. Akhirnya dibawa suami berobat ke dokter dan dinasehati dokter badan harus fit, daya tahan tubuh harus bagus, makan yang cukup dan teratur, tidak boleh terlalu capek dan sebagainya. Saya lega karena tidak ada yang serius.

Bertekad ASI ekslusif selama 6 bulan, dan orangtua saya sudah sangat bersemangat memberikan makan pada saat bayi saya menginjak 3 bulan. Dengan halus saya tolak. Dan itu tidak mudah karena setiap hari diminta memberikan makanan tambahan kepada bayi saya, terutama saat bayi menangis keras di malam hari. Menurut ibu itu karena bayi masih lapar. Tapi saya masih menyimpan semangat untuk tetap memberikan ASI ekslusif, meski sedih tak ada yang mendukung. Sempat karena sudah sukup tertekan saya menyuapi anak dengan makanan sangat halus pada usia bayi sekitar 4 bulan, dengan perasaan was-was dan memeperlihatkan kepada keluarga kalau bayinya belum mau. Akhirnya setelah itu sampai 6 bulan ngASI lanjut tnpa makanan tambahan.

 

asi 2

 

Kalau anak pertama tidak terlalu lecet saat bayi tumbuh gigi, anak kedua malah jahil banget gigit-gigit. Sering terasa sakit dan ngilu, meringis sambil ngASI, tapi tetap harus semangat. Anak kedua ngASI sampai 2tahun. dan alhamdulillah anak pertama dan kedua saat disapih terbilang tidak rewel.

Menurut referensi, demam bisa membantu mengatasi infeksi saat terjadinya radang. Mastitis (radang PD yang dicirikan dengan pembengkakan, PD memerah dan terasa sakit)  dan penyumbatan saluran ASI dua hal yang berbeda, meski mastitis bisa menyebabkan ASI tersumbat (radang kelenjarnya sampai membuat sempit saluran ASI), demikian kata dokter yang pernah saya temui.

Masih semangat ngASI ibu-ibu? Ayuukk kita ramaikan Pekan ASI dunia ^_^

Gambar diunduh dari http://www.huffingtonpost.com/entry/comics-that-capture-the-reality-of-breastfeeding_us_55b2a0c6e4b0224d88324ea7

 

 

 

 

Cerita di rumah Sakit

Standar

Tak terbayang sedihnya ketika anak demam dan harus dirawat di rumah Sakit.  Dan tak terniat untuk memberitahukan hal ini pada ibu, seperti biasa ibu akan sedih dan kemungkinan sakit. Akhirnya berita tersampaikan juga kepada ibu melalui kakakku.

Ketika memilih Rumah Sakit itu aku berpikiran “Ini dekat rumah jadi butuh apa-apa cepet, kalaupun suami pulang pergi tidak jauh”. Berhubung juga Suami tidak dapat tunjangan apa-apa dari tempat bekerja, jadi kami memilih sesuai tabungan yang ada. Awalnya memilih ruang perawatan yang sekamarnya diisi maksimal 2 orang. Ternyata penuh. Tersisalah kamar yang katanya VIP (Alhamdulillah, untuk sewa kamar ada asuransi pribadi), diisi oleh 1 orang dengan segala fasilitasnya. Setelah menunggu beberapa lama ruangan dirapikan dan mengurus segala administrasi, kami memasuki ruangan yang katanya VIP.

Ruangan memanjang itu kami masuki dengan jendela terbuka dan terasa angin sepoi-sepoi. Terlihat ada kasur yang sudah rapi dialasi di sudut kiri ruangan, sebuah sofa di bagian kanan dekat pintu masuk, sebuah lemari yang ternyata engsel pintunya rusak dan laci-lacinya sudah mulai rontok di kaki kasur, sebuah tivi di sudut  ruangan menghadap ke kasur dan berada pada ketinggian yang masih bisa dijangkau tangan, sebuah meja kayu beralas kaca di dekat jendela, serta di sampingnya da wastafel kecil.

Alhamdulillah kamar mandinya cukup bersih meski ada kerak-kerak berwarna merah mungkin karena airnya yang jelek. dan Kerannya mengucur air deras.

Setelah si kecil merasa nyaman tidur di kasur, sejenak aku amati sofa.. sepertinya bisa diperbesar dan dipakai untuk tidur malam. Dengan dibantu suami aku membuka sofa yang terlipat, subhanallah.. terlihat beberapa barang-barang kecil dan pasir-pasir halus menghuni bagian dalam sofa itu.. Perawat menyapa dengan ramah begitu memasuki ruangan,

“kenapa sofanya bu?”

“mbak ini bisa dipakai kan? tapi ini kotor sekali”

“iya bisa dipakai kok bu, nanti dibersihkan OB ya bu” berlalu dengan senyum

Selang beberapa menit OB datang dan membersihkannya, awalnya kupikir akan dibersihkan dengan penyedot debu.. tapi ternyata hanya dibersihkan dengan lap basah yang warnyanya sudah mendekati warna pasir-pasir di sofa itu. dalam hati hanya bisa berujar, ya Allah semoga ini tidak membuat si kecil ikut sakit.

Kebetulan si kecil memang badannya panas juga, tapi ga tinggi, dan masih mau makan. Dan sofa itu menjadi tempat yang “nyaman” untuk 3 malam selama nginap di Rumah Sakit, dengan beralaskan kain yang dibawa dari rumah, setiap malam berharap si kecil tetap nyaman tidurnya. Mungkin sedikit curhat.. kami tidak punya kasur yang bisa dibawa-bawa, tidak juga punya penyedot debu mini. Mungkin hal itu tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Terlebih ketika baru pindah semuanya dibeli lagi dengan dana secukupnya.

Hari kedua di rumah sakit terlihat lancar-lancar saja, sayangnya putriku sukses membasahi tempat tidurnya dengan pee. Aku membersihkan dengan air panas, karena biasanya dengan air panas tidka akan menyebabkan bau.. berharap kasurnya bisa diganti aku menghubungi perawatnya, ternyata setelah ditanya kasurnya ga ada penggantinya.. hanya spreinya yang bisa diganti, Dengan sprei terbuka dan untungnya cahaya matahari bagus.. tempat tidur aku hindari dari anak-anak.. Begitulah kamar yang katanya VIP itu kami dapati.

Hari ketiga sempat mengalami kekurangan air selama beberapa jam karena alat pompa sedang diperbaiki.. Mau kesel ya percuma saja, pompanya ga akan segera baik dengan marah-marah.

Dari semua cerita yang cukup membuat saya sedikit geram adalah, semua perawat, dokter maupun OB memasuki ruangan tanpa melepas alas kaki… mau geleng-geleng dalam hati saja. Padahal lantai tempat bermain anak saya yang kecil dan biasanya si sakit juga ikut adiknya untuk melepas kepenatan di tempat tidur.

Jika saya boleh bertanya dimanakah letak kewajaran biaya yang harus saya bayar sebesar 100rb perkali kunjungan dokter ke ruangan yang hanya beberapa detik dan tidak memuaskan pertanyaan saya tentang si sakit?

Ibuku wanita tangguh

Standar

Alhamdulillah beberapa jam lagi bisa melihat raut wajah ibu. InsyaAllah besok akan ketemu.
Ibu beberapa tahun terakhir jarang bertemu denganku.. hanya bisa menyampaikan kabar melalui telepon dan berbagi tawa. SElalu mengkhawatirkan keadaaanku di sini, dan aku tidak pernah ingin ibu terlalu khawatir seperti itu. Sebisa mungkin semua kabar yang kuberikan adalah kabar gembira, kenapa juga aku harus membebani pikirannya dengan keluh kesah. Sekian waktu yang telah aku jalani di samping ibu, meski hari-hari itu ibu hanya punya waktu sedikit di rumah, tapi beliau adalah ibuku yang tangguh.

Dari kecil ketika bangun di pagi hari tidak bertemu dengan ibu itu adalah hal yang sudah biasa. Berangkat sekolah tanpa diantar ibu, sarapan di sekolah dan ketika menerima raport tidak ada ibu menemani, kecuali waktu itu sempet berada di posisi nomer 3 terakhir di kelas, wali kelas kaget dan memanggil ibu ke sekolah.. Tak pernah berharap memberikan sesuatu yang tidak baik untuk ibu, tapi waktu itu aku tidak mau nilai menjadi sangat penting.

Hari-hari biasa di rumah sore ibu memasak untuk keluarga, malam membantuku belajar bahkan kadang menemani sampe larut dan selalu mengkhawatirkanku jika masih membuka buku sampe larut malam. Meskipun membantuku belajar tidak setiap saat, tapi perhatian itu menurutku sudah sesuai dengan kemampuannya, mungkin ia merasa lelah setelah siang sibuk bekerja.

Ketika aku sakit, tengah malam batuk2 dan kesusahan bernafas, ibu memijiti punggungku dengan minyak hangat dan menunggui hingga aku mengantuk.. paginya terasa nyaman dan segar. Dan ibu sudah berangkat pergi mengajar.

Yang paling aku suka adalah ketika ibu membuat kue.. sangat enak dan mempunyai rasa yang selalu membuat kangen. Meski ibu tak sepintar nenek dalam hal memasak gulai, tapi kue buatan ibu mantap banget. Kalau menjelang lebaran, biasanya tetangga minta join buat kue dan aku ikut membantu.

Setelah usai shalat magrib berjamaah di rumah dengan ayah sebagai imam, biasanya ibu menyampaikan nilai-nilai baik sesuai dengan yang ia ketahui tentang adab, tingkah laku, dan sejenisnya, mengingatkan untuk berzikir dan berdo’a serta mengingatkan untuk membiasakan mengaji setelah shalat magrib.

Ketika kuliah terkadang merasa iri dengan anak kos lainnya yang rutin ditelepon ibunya, tidak seperti ibuku yang bisa dikatakan jarang menelepon dan menanyakan keadaan di kos. Ibu juga jarang ke kosku, ibu sempet ke kos waktu aku sakit, menjemput ke kamar kos, serta terakhir waktu mau membawa barang2 dari rumah kos ketika tamat kuliah. Tapi kalau di rumah ibu selalu menanyakan keadaanku, dan mengkhawatirkan kenapa tambah kurus 🙂

Ketika sakit ibu biasanya membuatkan sendiri racikan obat dari tanaman yang ia tahu, Ya Allah kenapa aku kadang tidak meminum ramuan obat yang telah dibuat oleh tangan lembut ibuku 😦 Aku membutuhkan waktu sekian menit untuk meminum obat itu, terkadang baunya tidak aku suka, terkadang rasanya tidak aku suka… Tapi sekarang merasa rindu jika sakit datang ingin dibuatkan obat oleh ibu.

ibuku

Mungkin karena khawatir dengan keadaaanku, ibu sempat mengatakan pada calon suami bahwa aku sakit2an dan takut calon suami tidak bisa menerimanya. Ibuku memang selalu khawatir dengan kesehatanku, tapi aku masih saja lupa dengan keadaaannya.

Ya Allah mohon kesehatan untuk ibuku selalu, karena sering terdengar di ujung telpon beliau sedang sakit atau demam. Dan sampaikan niatnya untuk bisa melaksanakan ibadah haji beberapa tahun lagi (ibu lebih mau bersabar menunggu antrian daripada membayar untuk mempercepat)

Wajah amak

Standar

Ingin sedikit menulis dan mengingat kembali hari-hari bersama nenek. Nenek adalah sosok yang dekat denganku waktu kecil… sering dimandiin nenek, diantar sekolah, tidur juga sama nenek.. Hari-hari memang lebih banyak bersama nenek karena ibu harus bekerja… Aku memanggil nenek dengan panggilan amak. Selanjutnya aku menyebut nenek dengan kata amak saja 🙂

Amak begitu dekat denganku waktu kecil, sampai-sampai aku merasa cemburu kalau sepupuku yang lain yang juga diasuh amak juga dekat dengan beliau.. Padahal waktu itu aku kalau ga salah udah SMA. Hehe.. jadi malu kalau diingat-ingat.

Amak sosok yang ga bisa diem, kalau di rumah di kampung paling rajin membersihkan ladang (kalau bahasa daerahku palak)… Palak isinya ada tebu, pohon jambu biji, pohon alpukat, pohon buah Nona (kalo di Jawa disebut buah Srikaya), pohon kelapa (yang paling banyak jumlahnya). Dulu amak juga beternak ayam dan mempunyai kandang ayam yang cukup besar. Masakan amak paling te o pe deh.. masak rendang, masak gulai paku, masak palai bada, masak kolak, masak cindua bonai.. aduh mantap jadi kangen masakan amak…

 

Gambar

Amak yang sudah renta

Amak dulu sering mengajakku ke surau (musholla) dan aku sering mendengar pengajian yang amak ikuti dengan senang hati. Meski tidak begitu mengerti tapi kalau diajak amak ke Musholla biasanya aku senang dan menantikannya.  Masih ingat waktu itu ustazah yang memberikan pengajian mau mendirikan sekolah madrasah, liat foto-fotonya yang udah hampir jadi.. apakah sekolah itu sekarang berjaya? Entahlah…

Itu cerita amakku dulu…. sekarang amak sudah renta, hanya bisa duduk di tempat tidur.. terakhir bertemu dengan beliau masih bisa berjalan ke luar kamarnya…  Lebih kurang 2 tahun ini amak mulai sering lupa bahkan dengan anaknya sendiri. sudah tidak kuat ke musholla, dan tidak kuat membersihkan palak atau memasak rendang lagi. Amak… kalau pulang kampung lagi ingin bertemu amak lagi, melihat amak tersenyum ketika cicit amak bersalaman dengan amak… ini cicit amak yang satunya juga sudha besar, sudah bisa bersalaman… amak… aku minta maaf kalau pernah menyakiti perasaan amak.

 

Sampingan

Belanja dengan bonus? terlihat menarik.. apalagi kalau ada tulisan harga bonusnya… haduh tambah semangat belanjanya, kepikirannya malah bonusnya bukan barang belanjaan yang diperhatikan. Mata semakin tambah ijo saja kalau melihat berjejer bonusnya. Senang memang begitu menerima belanjaan ada bonusnya, tapi kaget kalau sampai di rumah tahu belanjaan ada bonusnya ternyata tidak dikasih. wah wah..

Tapi mungkin saya bukan termasuk tipe yang sering memperhatikan kalau belanja di suatu tempat belanja A bisa dapet bonus, belanja paket B bisa dapet bonus dan sebagainya. Tahunya kadang di kasir dikasih bonus barang. Beberapa kasir yang ditemui menunjukkan struk yang bertuliskan bonusnya dan memberikan barang bonus tersebut dengan tersenyum. Pengalaman lain, manager area sendiri yang memberikan penjelasan kalau ada bonus setiap pembelanjaan tertentu yang kebetulan berdert rapi di samping kasir.
Pengalaman menarik lainnya pernah dapet bonus dua buah dan dikasih hanya satu, beguitu belum jauh dari minimarket tanpa sengaja saya membaca struk yang tidak begitu jelas tulisannya namun jelas di jumlah bonusnya 🙂 Suami dengan sukarela membalik arah dan menagih bonus barangnya kepada si kasir. Ini benar-benar berkesan bagi saya, entah itu disengaja atau tidak, atau kasirnya tidak tahu aturannya…. Entahlah… yang jelas waktu itu mendapatkan kedua barang bonus yang diperuntukkan dari hasil belanjaan saya dan keluarga.

Tetapi bonus belanja sering juga yang tidak bermanfaat, seperti bonus voucher belanja yang sering saya dapat, karena saya tidak merasa membutuhkan belanja di tempat yang bersangkutan, jadi bonusnya terbuang percuma saja.

Bonus belanja juga ada yang ditempelkan di produknya dan kadang terlihat lebih menonjol daripada produk yang dijual. Jadi bingung, yang dijual bonusnyakah atau produknyakah?

Yang juga menarik yaitu cerita suami ketika berbelanja di sebuah minimarket, sudah terlihat di depan kasir tulisan besar beli barang A gratis barang A dengan kuantity yang sama, dan kasirnya sudah mengambilkan bonus yang dimaksud, tapi bonus itu tidak ikut serta ke dalam kantong belanjaan suami saya. Apakah sebuah kesengajaan ataukah sebuah kealpaan? Wallahu’alam….

Senangnya belanja dapat bonus