Mari olah sampah organik


MARI OLAH SAMPAH ORGANIK – Paling pusing kalau masalah sampah di rumah. Saya termasuk yang alergi dan gampang terserang pilek, sampah tisu kadang bisa menumpuk dalam sekejap. Dan saya termasuk yang selalu berpikir keras jika sampah dapur menumpuk. Kalau sampah dari olahan masakan sebenarnya hanya sedikit, biasanya yang membuat sampah menggunung adalah sisa kupasan buah. Meski dalam beberapa hal ada sisa kulit buah yang masih bisa diolah dan dijadikan santapan lagi, namun saya tidak sanggup untuk mengolahnya lebih lanjut.

Telah beberapa tahun saya memikirkan cara mengolah sampah yang paling mudah agar tidak menguras waktu dan tidak menambah pekerjaan rumah. Karena jujur saja, pekerjaan rumah yang ada terkadang dikejar-kejar tanpa kenal waktu membuat lelah dan stress datang. Apalagi dengan ketiadaan asisten runah tangga, semua dikerjakan dengan “bantuan” anak-anak. Ya.. benar “bantuan” dari anak-anak lebih sering membuat lama pekerjaan, meski mereka sangat bersemangat “membantu”.

PicsArt_07-28-10.56.53.jpg
Beberapa tanaman ini menggunakan media dari sampah kompos buatan sendiri

Sekitar tahun 2012 lalu saya mencoba membuang sampah dapur dan sisa sampah buah dalam wadah tertutup, berharap menghasilkan kompos cair. Namun ternyata waktu pembusukan cukup lama serta tidak sedap baunya. Lalu saya pindahkan ke tanah di dekat pohon mangga di depan rumah, menggali sedikit saja ruang kecil di sana, waktu itu saya tidak punya alat memadai untuk menggali. Meski hasilnya tidak bisa dinikmati(saya menimbun begitu saja), setidaknya sedikit masalah sampah teratasi. Pada masa itu saya masih tidak terlalu rutin melakukannya berhubung banyak pekerjaan rumah yang tidak sanggup dikerjakan sendiri.

Kemudian beranjak sekitar tahun 2015 saya menggunakan 3 buah tempat plastik yang ada tutupnya dan sebelumnya dilapisi plastik hitam. Itu saya lakukan setelah melihat panduan di Youtube. Dengan menggunakan cairan khusus untuk penghancur sampah organik, saya berharap bisa memanfaatkan wadah plastik itu secara bergantian, namun bernasib sama seperti sebelumnya. Proses pembusukan sampah itu sangat lama. Masih sekitar tahun 2015 saya pernah membuat kompos cair dari campuran air cucian beras, gula merah dan sampah buah yang diblender hingga halus lalu dibiarkan selama beberapa hari. Hasilnya cukup bagus, tapi lagi-lagi saya tidak punya waktu yang banyak untuk melakukannya. Saya mulai patah semangat dengan cara-cara tersebut.

Saat kehamilan tahun 2016 sampai 2017 saya berhenti mengurusi semuanya, karena hampir tidak bisa melakukan pekerjaan apapun. Barulah pada awal 2018 saya mulai di tempat baru dengan cara baru. Awalnya saya menggunakan karung goni untuk wadahnya karena bagian tepinya bisa mengalirkan udara, sayangnya karung goni dengan mudah lapuk beserta sampah organik di dalamnya. Saat pengisian saya memasukkan tanah siap pakai untuk tanaman yang dibeli beberapa karung plastik, barulah dimasukkan sampah organik setelahnya, jika semoat sore hari saya tutup sampah itu dengan tanah di atasnya. Demikian seterusnya hingga cukup banyak. Hasilnya ternyata bagus setelah dibiarkan beberapa lama. Saya menggunakannya untuk media tanam tanaman sayur.

Berhubung karung goni tidak tahan lama, beberapa waktu lalu nekat membeli beberapa buah keranjang baju yang berlobang-lobang untuk dijadikan wadah sampah organik. Meski pengeluarannnya cukup besar, saya berharap bermanfaat untuk ke depannya. Wadah ini saya isi potongan karton di bagian bawahnya, lalu dimasukkan sampah organik (terkadang tidak dipotong kecil), dan ditutup dengan tanah.

PicsArt_07-04-09.05.37.jpg
Salah satu wadah sampah organik

Terkadang saya mencium bau tak sedap dari sampah organik ini. Setelah membaca beberapa referensi barulah saya paham tentang beberapa hal bahwa sampah hewani sebaiknya tidak dicampurkan. Dan hal lain yang juga baru saya ketahui setelah belajar lagi adalah bahwa sampah seperti tisu, karton, kain katun, koran merupakan bagian yang bermanfaat dalam pembusukan sampah kompos, sebelumnya saya hanya memanfaatkan tanah untuk pembusukan. Tapi satu hal yang belum bisa saya praktekkan adalah mengaduk dan membasahi, biasanya hujan yang membantu membasahi, dan saya tidak sempat mengaduknya(sekali lagi pekerjaan rumah tangga itu banyak dan butuh perjuangan). Seharusnya hal itu rutin dilakukan agar proses pembusukan berjalan dengan cepat.

Berhubung tulang ikan, tulang ayam beserta dagingnya, telur, roti, telur, serta nasi yang sudah bercampur dengan produk hewani tidak bisa dimasukkan, jadinya semua itu saya serahkan kepemilikannya kepada hewan-hewan berbulu di depan rumah. Ya… kucing ramai bermain di depan rumah. Mereka menyambut bahagia kalau saya keluar rumah menenteng sesuatu.

PicsArt_08-03-11.48.48.jpg

Saya lega beberapa masalah sampah teratasi, meski demikian masih ada sampah lain yang tidak bisa saya olah. Ini tetap akan menjadi perhatian saya. Beberapa hari lalu berbincang dengan tetangga, beliau menyampaikan bahwa pemerintah kota sudah mencanangkan beberapa program mengatasi sampah (sampah yang dibawa oleh petugas kebersihan akan diminimalkan) sebagian sampah akan diambil oleh pihak ketiga untuk diolah. Tapi sayang program ini masih belum disosialisasikan. Semoga masalah sampah ini semakin cepat teratasi dengan baik. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s